Maaf
Ada lelucon, bahwa orang suku Jawa itu orang yang super sabar. Suatu hari Joko, suku Jawa, sedang berdiri di dalam bis yang mengantarnya ke tempat kerja. Seorang penumpang lain yang juga sedang berdiri di sampingnya, tak sengaja berdiri menginjak kaki Joko. Awalnya Joko berusaha bertahan berharap orang tersebut bergeser. Tapi setelah beberapa saat orang tersebut tidak bergeser dan kakinya makin sakit. Dengan menahan sakit, Joko masih berusaha tersenyum dan berkata pada orang yang menginjak kakinya dengan sangat sopan, “Mas…maaf Mas, kaki saya keinjek (terinjak-red).” Sesudah orang tersebut bergeser, Joko masih berucap,”Terima kasih, Mas.” Berlebihankah kesabaran Joko? Jika Anda di posisi Joko, apa yang akan Anda lakukan?
Dalam pendidikan modern kita diajarkan untuk bersikap terbuka, mengungkapkan apa perasaan kita, berani memperjuangkan hak kita, dan yang bersalah harus meminta maaf. Dalam kenyataan hidup sehari-hari kita melihat banyak orang yang menyimpan perasaan, punya hak tetapi mengalah, dan orang yang meminta maaf tidak sebanyak orang yang bersalah. Apakah hal-hal semacam ini harus kita ubah dengan mengungkapkan perasaan tidak senang kita secara terbuka, menuntut hak kita, serta menuntut orang meminta maaf apabila bersalah?
Bayangkan apabila suatu pagi Anda bersiap ke kantor, sebelum berangkat istri atau suami Anda menyampaikan bahwa ia tidak suka kelakuan Anda pagi ini karena meletakkan pakaian bekas pakai Anda sembarangan di kamar mandi, dan menuntut Anda minta maaf. Apa perasaan Anda? Dalam perjalanan ke kantor, tak sengaja mobil Anda berpindah dan memakan jalur mobil orang lain. Mobil tersebut menuntut haknya dengan membunyikan klakson panjang dan bertubi-tubi kepada Anda. Apa perasaan Anda? Sesampai di kantor, baru saja Anda duduk, datang bawahan Anda ingin berbicara terbuka pada Anda. Ia menyampaikan bahwa ia merasa tidak suka karena dalam rapat kemarin Anda menunjuk dengan jari ke wajahnya. Ia meminta Anda untuk tidak mengulanginya lagi, dan secara tidak langsung ia menuntut Anda meminta maaf. Apa perasaan Anda? Ketika Anda ingin ke ruang meeting, tiba-tiba ada telpon penting, sehingga Anda tiba di ruang rapat terlambat 2 menit. Begitu selesai rapat, kolega Anda yang memimpin rapat mendatangi Anda, berkata dengan terus terang bahwa ia tidak suka keterlambatan Anda, dan Anda mau tak mau meminta maaf. Apa perasaan Anda? Capek? Bagaimana bila setiap hari Anda mengalami hal seperti ini? Tidakkah Anda akan meledak, dan balas menuntut orang-orang tersebut dengan membacakan ‘dosa-dosa’ mereka terhadap Anda? Apa yang akan terjadi bila demikian? Haruskan hidup kita dipenuhi dengan tuntutan minta maaf, baik terhadap diri kita maupun terhadap orang lain?
Permintaan maaf adalah suatu ungkapan simpati seseorang atas kesalahan yang dibuatnya terhadap orang lain, baik disengaja maupun tidak disengaja. Permintaan maaf yang sejati adalah apabila terbit dari lubuk hati yang dalam bukan hanya di mulut. Suatu uluran emosi terhadap orang yang dimintai maafnya bahwa ia mengasihinya. Sebaliknya, orang yang dimintai maaf secara tulus, akan merasakan aliran simpati yang membuat nyaman, yang menghibur. Proses maaf yang sejati dan tulus, pada akhirnya akan lebih mengeratkan hubungan emosi kedua orang tersebut secara positif.
Apa yang terjadi apabila seseorang dituntut untuk meminta maaf? Akankah permintaan maaf yang terucap berasal dari lubuk hati yang dalam? Kalau kita mau jujur mengakui, bagaimana pun juga kritik yang diungkapkan orang terhadap kita akan terasa tidak enak, apalagi disertai tuntutan minta maaf. Permintaan maaf yang timbul akan lebih dikarenakan oleh memenuhi tuntutan, bukan dengan rela hati dan karena simpati. Bagi orang yang menuntut permintaan maaf, bukan aliran simpati yang akan dirasakan, tetapi lebih pada perasaan puas diri karena kemenangan terhadap tuntutannya. Proses maaf yang salah ini, pada akhirnya malah berpengaruh negatif terhadap hubungan emosi kedua orang tersebut.
Manakah yang kita ingin peroleh dalam kehidupan kita? Maaf yang sejati atau maaf yang karena tuntutan? Bagaimana memperoleh maaf yang sejati? Maaf yang sejati timbul dari kesadaran diri orang yang meminta maaf. Oleh karena itu tidak perlu kita menuntut orang lain meminta maaf atau mengaku salah. Jika kita memfokuskan diri pada kesalahan-kesalahan orang lain yang diperbuat terhadap kita, maka hidup kita akan terasa seperti ‘debt-collector’ yang menagih maaf dari setiap orang, karena pada hakekatnya tidak ada orang yang tidak berbuat salah, termasuk Anda sendiri. Maukah hidup Anda dipenuhi oleh saling tuntut meminta maaf? Tidak saja membuat stres, tetapi juga akhirnya hubungan Anda dengan semua orang menjadi tidak enak. Karena itu, jauhkan fokus Anda dari melihat kesalahan orang lain, perbesarlah toleransi Anda. Janganlah membuat perkara setiap kesalahan, apalagi kesalahan kecil. Janganlah Anda hancurkan hubungan Anda dengan orang-orang di sekitar Anda dengan rajin membacakan ‘dosa-dosa’ mereka terhadap Anda. Sebaliknya, apabila Anda pandai bertoleransi, serta dapat sensitif dan mau meminta maaf kepada orang lain dengan tulus, maka hubungan Anda dengan orang-orang di sekitar Anda akan semakin positif dan erat.
Hari cerah Anda dan hari suram Anda, kesuksesan dan kegagalan Anda, banyak dipengaruhi oleh hubungan Anda dengan orang-orang di sekitar kita. Mari kita eratkan hubungan positif dengan orang-orang di sekitar kita dengan tidak mencari kesalahan dan kata maaf dari orang lain.
published at Media Kawasan Sunter, Kelapa Gading, Puri Indah, edisi Juli 2006
Dalam pendidikan modern kita diajarkan untuk bersikap terbuka, mengungkapkan apa perasaan kita, berani memperjuangkan hak kita, dan yang bersalah harus meminta maaf. Dalam kenyataan hidup sehari-hari kita melihat banyak orang yang menyimpan perasaan, punya hak tetapi mengalah, dan orang yang meminta maaf tidak sebanyak orang yang bersalah. Apakah hal-hal semacam ini harus kita ubah dengan mengungkapkan perasaan tidak senang kita secara terbuka, menuntut hak kita, serta menuntut orang meminta maaf apabila bersalah?
Bayangkan apabila suatu pagi Anda bersiap ke kantor, sebelum berangkat istri atau suami Anda menyampaikan bahwa ia tidak suka kelakuan Anda pagi ini karena meletakkan pakaian bekas pakai Anda sembarangan di kamar mandi, dan menuntut Anda minta maaf. Apa perasaan Anda? Dalam perjalanan ke kantor, tak sengaja mobil Anda berpindah dan memakan jalur mobil orang lain. Mobil tersebut menuntut haknya dengan membunyikan klakson panjang dan bertubi-tubi kepada Anda. Apa perasaan Anda? Sesampai di kantor, baru saja Anda duduk, datang bawahan Anda ingin berbicara terbuka pada Anda. Ia menyampaikan bahwa ia merasa tidak suka karena dalam rapat kemarin Anda menunjuk dengan jari ke wajahnya. Ia meminta Anda untuk tidak mengulanginya lagi, dan secara tidak langsung ia menuntut Anda meminta maaf. Apa perasaan Anda? Ketika Anda ingin ke ruang meeting, tiba-tiba ada telpon penting, sehingga Anda tiba di ruang rapat terlambat 2 menit. Begitu selesai rapat, kolega Anda yang memimpin rapat mendatangi Anda, berkata dengan terus terang bahwa ia tidak suka keterlambatan Anda, dan Anda mau tak mau meminta maaf. Apa perasaan Anda? Capek? Bagaimana bila setiap hari Anda mengalami hal seperti ini? Tidakkah Anda akan meledak, dan balas menuntut orang-orang tersebut dengan membacakan ‘dosa-dosa’ mereka terhadap Anda? Apa yang akan terjadi bila demikian? Haruskan hidup kita dipenuhi dengan tuntutan minta maaf, baik terhadap diri kita maupun terhadap orang lain?
Permintaan maaf adalah suatu ungkapan simpati seseorang atas kesalahan yang dibuatnya terhadap orang lain, baik disengaja maupun tidak disengaja. Permintaan maaf yang sejati adalah apabila terbit dari lubuk hati yang dalam bukan hanya di mulut. Suatu uluran emosi terhadap orang yang dimintai maafnya bahwa ia mengasihinya. Sebaliknya, orang yang dimintai maaf secara tulus, akan merasakan aliran simpati yang membuat nyaman, yang menghibur. Proses maaf yang sejati dan tulus, pada akhirnya akan lebih mengeratkan hubungan emosi kedua orang tersebut secara positif.
Apa yang terjadi apabila seseorang dituntut untuk meminta maaf? Akankah permintaan maaf yang terucap berasal dari lubuk hati yang dalam? Kalau kita mau jujur mengakui, bagaimana pun juga kritik yang diungkapkan orang terhadap kita akan terasa tidak enak, apalagi disertai tuntutan minta maaf. Permintaan maaf yang timbul akan lebih dikarenakan oleh memenuhi tuntutan, bukan dengan rela hati dan karena simpati. Bagi orang yang menuntut permintaan maaf, bukan aliran simpati yang akan dirasakan, tetapi lebih pada perasaan puas diri karena kemenangan terhadap tuntutannya. Proses maaf yang salah ini, pada akhirnya malah berpengaruh negatif terhadap hubungan emosi kedua orang tersebut.
Manakah yang kita ingin peroleh dalam kehidupan kita? Maaf yang sejati atau maaf yang karena tuntutan? Bagaimana memperoleh maaf yang sejati? Maaf yang sejati timbul dari kesadaran diri orang yang meminta maaf. Oleh karena itu tidak perlu kita menuntut orang lain meminta maaf atau mengaku salah. Jika kita memfokuskan diri pada kesalahan-kesalahan orang lain yang diperbuat terhadap kita, maka hidup kita akan terasa seperti ‘debt-collector’ yang menagih maaf dari setiap orang, karena pada hakekatnya tidak ada orang yang tidak berbuat salah, termasuk Anda sendiri. Maukah hidup Anda dipenuhi oleh saling tuntut meminta maaf? Tidak saja membuat stres, tetapi juga akhirnya hubungan Anda dengan semua orang menjadi tidak enak. Karena itu, jauhkan fokus Anda dari melihat kesalahan orang lain, perbesarlah toleransi Anda. Janganlah membuat perkara setiap kesalahan, apalagi kesalahan kecil. Janganlah Anda hancurkan hubungan Anda dengan orang-orang di sekitar Anda dengan rajin membacakan ‘dosa-dosa’ mereka terhadap Anda. Sebaliknya, apabila Anda pandai bertoleransi, serta dapat sensitif dan mau meminta maaf kepada orang lain dengan tulus, maka hubungan Anda dengan orang-orang di sekitar Anda akan semakin positif dan erat.
Hari cerah Anda dan hari suram Anda, kesuksesan dan kegagalan Anda, banyak dipengaruhi oleh hubungan Anda dengan orang-orang di sekitar kita. Mari kita eratkan hubungan positif dengan orang-orang di sekitar kita dengan tidak mencari kesalahan dan kata maaf dari orang lain.
published at Media Kawasan Sunter, Kelapa Gading, Puri Indah, edisi Juli 2006

1 Comments:
kata maaf memang mudah diucapkan tapi sulit dilakukan.
terima kasih atas komentar Pak Bayu di blog Koran Saya.
Post a Comment
<< Home